Seniman
Seniman itu hidupnya cukup, tidak merasa kurang atau merasa lebih. Cukup saja.
Untuk hidup cukup, untuk kehidupan sehari-hari cukup. Ketika butuh selalu ada, ketika tidak butuh, ia tidak akan punya hasrat untuk punya keinginan berlebih.
Karena secara sadar, seorang seniman memahami tentang filsafat hidup.
Seorang seniman mengerti tentang hakikat puasa. Dia tidak akan makan kalau tidak benar benar lapar. Dan dia akan makan ketika memang sudah waktunya untuk makan (butuh makan).
Dalam perjalanannya, Seniman sering dianggap berbeda dari yang lain. Dalam hal pemikiran ataupun karya yang dibuatnya. Seniman itu tumbuh dalam keunikan dan keasliannya sendiri, dan itu tidak bisa diajarkan, tetapi dicari sendiri dan di alami sendiri oleh sang seniman (Jakob Sumardjo, "Filsafat Seni", 2000).
Namun, bagi sebagian masyarakat menganggap seorang seniman itu aneh, cenderung individualis, dan sulit untuk dipahami. Tapi begitulah kenyataannya seorang seniman.
Komentar
Posting Komentar